Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin versus Cueknya Pemerintah


Sebuah kabar yang ga enak kembali datang dari dunia sastra di Indonesia. Kemaren, saya dapet berita dari twitter kalo Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin terancam ditutup karena kurangnya dana untuk perawatan dan operasional.

PDS HB Jassin sendiri didirikan oleh pengarang, penyunting dan kritikus sastra HB Jassin pada tanggal 28 Juni 1976 dengan biaya sendiri. Tujuan Jassin mendirikan PDS ini adalah untuk mendokumentasikan, melestarikan juga mengamankan aset sastra yang dimiliki Indonesia. Disediakan pula ruang baca publik yang ada di rtempat itu. Dan sekedar informasi, HB Jassin mendirikan PDS ini dengan dana pribadi yang sangat terbatas. Minim, tanpa bantuan dari pemerintah pada saat itu.

PDS HB Jassin terletak di lantai 2 gedung Galeri Cipta II di kompleks Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta.Tempat ini pun di berikan oleh Gubernur Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin  karena tergugahnya dia akan semangat yang dibangun oleh Jassin.  Ada lebih dari 48.000 dokumen sastra dari berbagai jenis yang tersimpan disana. PDS ini adalah database sastra terbesar di Indonesia.

Tapi nampaknya pemerintah tak lagi memberikan perhatian yang cukup terhadap salah satu tempat yang semestinya dijaga dan di lestarikan. Tempat yang menyimpan berbagai sejarah sastra yang terjadi di Indonesia. Bahkan kabar terbaru, subsidi untuk tempat ini bakalan dikurangi dengan alasan yang tidak jelas. Padahal PDS sangat membutuhkan dana untuk pemeliharaan aset dan segala tetek bengek.

PDS HB Jassin dari awal memang sudah di prediksi tidak mungkin bisa mandiri karena sifatnya yang bukan sebagai sarana komersil. Murni untuk sebagai database sastra. Dan dengan keadaan seperti ini, mutlak diperlukan bantuan subsidi dari pemerintah. Bahkan saking susahnya, untuk membayar listrik dan gaji pegawai, PDS HB Jassin ini harus pontang-panting, saking sulitnya mencari dana.

Adalah sebuah kemunduran bagi sastra Indonesia jka PDS HB Jassin ini benar ditutup. Pemerintah pun seharusnya malu. Malu karena tidak bisa menjaga atau malah melestarikan peninggalan sejarah di bidang sastra. Bukankah presiden prtama kita pernah bilang kalo bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat dan menghargai sejarah? “jangan sekali-kali melupakan sejarah” JAS MERAH.  Saya yakin, saat ini, Soekarno, HB Jassin juga Ali Sadikin pasti sedang menangis bersedih dengan keadaan seperti ini. sebuah sejarah terancam (lagi-lagi hilang karena cueknya pemerintah). Padahal PDS HB Jassin dari masa ke masa selalu membantu para sastrawan dalam mencari referensi. Ga hanya sastrawan, awam pun mengakui kegunaan dari PDS ini. Kalo masyarakat bisa bilang begitu, lantas kenapa pemerintah yang seharusnya bisa menjaga malah masa bodo? TOLOL.

Saya jadi mikir, apa pemerintah lebih seneng ngeluarin duit negara bermiliar-miliar untuk studi banding para wakil rakyat goblok itu daripada mengeluarkan, katakanlah 10 juta perbulan untuk perawatan dan subsidi PDS ini?

Atau pemerintah lebih suka menunggu? Menunggu PDS ini diakui atau di kelola negara lain baru mulai kebakaran jenggot? Telat woy manusia setan berdasi!!! Jangan menjadikan hal seperti itu sebagai sebuah kebiasaan. Baru mulai bergerak setelah diusik negara lain, baru mulai bertindak setelah di senggol negara lain. Kalo boleh jujur, ya lebih baik di kelola negara lain sih, daripada negara sendiri ga mau pusing mikirin.

Situh pasti bisa membandingkan deh, bagaimana negara lain sangat menghargai sejarah mereka. Coba liat perpustakaan negara di AS yang begitu megah dan mewah, atau coba liat Goethe di Jerman yang sangat terawat, atau juga Efke di Praha yang menjadi ciri khas kota tersebut karena perhatian dan kepintaran negaranya dalam mengelola aset negara dibidang sejarah. Indonesia? parah. Iya, perlu saya bilang kalo perawatan dan juga perhatian pemerintah Indonesia akan hal-hal seperti itu sangatlah parah. COntohnya ya PDS HB Jassin ini. Dulu jaman SMP saya main kesana, keadaannya sangat ga layak banget disebut Pusat Dokumentasi Sastra karena minimnya fasilitas juga dalam hal penyimpanan dan perawatan aset. Sekarang? masih sama aja tuh, bahkan lebih parah. Iya dong lebih parah, lha wong sampe terancam ditutup??

Miris rasanya jika membandingkan dedikasi pengelola PDS ini dengan tingkah dan sikap pemerintah. Mereka-mereka yang mengelola PDS begitu bersemangat dan loyal dalam mengurus dan menjaga juga merawat aset sastra di PDS ini, padahal gaji mereka selalu sering telat, bahkan tidak jarang mereka merogoh kocek pribadi demi berjalannya PDS ini.  Coba bandingkan dengan orang-orang berdasi itu yang kerjaannya hanya teriak minta kenaikan gaji dengan loyalitas yang memalukan. Malu!!

Tapi denger-denger sih, para sastrawan dan penulis-penulis yang masih sayang dengan PDS ini bakalan menggelar koin sastra yang digelar demi membantu kelangsungan hidup PDS ini. Puji syukur masih banyak yang perhatian dengan PDS dan juga aset sastra Indonesia. Harapannya sih, mudah-mudahan pemerintah ngerasa tercolek dan mau memperhatikan PDS ini lagi. Itu kalo mereka masih punya hati dan nurani yang bersih, yang feeling saya sih udah ga ada. 😛

Oke, buat situh yang cinta dengan sastra, apalagi sastra Indonesia, bolehlah ikutan bantu menyukseskan koin sastra ini. Ga usah besar yang penting kerelaan dan sumbangsihnya sebagai wujud perhatian dan kepedulian terhadap sastra Indonesia yang seang dibunuh perlahan oleh para orang-orang gila pemerintahan.

Saya sih bakalan emosi ga udah-udah dan freak gila-gilaan sama pemerintah apalagi presidennya kalo sampe PDS ini jadi ditutup dan yang terdengar hanya kalimat, “..saya turut prihatin..”

Gila itu namanya…

SELESAI

Iklan

4 responses to “Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin versus Cueknya Pemerintah

  1. hemmm.. Malu juga ya. Ternyta ࠠhal yang begitu penting mau ditutup gara-gara minim dana, dan lebih malu lagi minim dana itu disebabkan para penentu kebijakan yang sama sekali ga bijak. Gumregah bersama aja deh, kalau Pemerintah memang “tidak sanggup” lagi, berteriaklah lewat tindakan untuk menyelamatkannya kembali.. 😀

    • memang rencananya kan gitu, minggu ini memang diadakan pekan penggalangan bersama yang dibuat oleh para sastrawan dan mereka yang peduli dengan sastra. Kabarnya sih, setelah kejadian ini, pmerintah baru mulai mengeluarkan dana hibah untuk PDS. Lucu kalo melihat mereka baru peduli setelah disindir. Pemimpin macam apa?? 😀

  2. Kejadian ini layaknya dijadikan satu momen penting untuk elemen masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan peran dalam “menjaga peradaban”. Mahasiswa bergerak dengan suara, meminta pemerintah (Pemprov) untuk mengucurkan dana yang pantas untuk PDS HB Jassin. Jika tak sanggup, kita tantang Mendiknas untuk merealisasikan janjinya yang mau “menghidupi” PDS ini. JIka memang PEMERINTAH tak sanggup, kita turun ke jalan bersama-sama, kembali meminta rakyat merogoh kantong mereka yang sangat-sangat tipis untuk menyumbang rupiah demi menjaga budaya dan identitas bangsa INDONESIA. Kalau tidak kita, siapa lagi??

    • itulah, kabar terbaru yang saya dapat, katanya sih kalo ga salah besok atau lusa bakal di adakan malam penggalangan dana oleh para sastrawan untuk membantu kelangsungan dari PDS HB Jassin ini. Ini salah satu peninggalan sejarah yang sangat bermanfaat. Selamanya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s