Pernah Tahu?


Pernah tahu rasanya sakit? Tidak. Karena kau selalu merasa sehat, hebat dan kuat. Pantang bagimu untuk berpedih dan keluh kesah dengan apa yang kusebut rasa sakit. Kalau kau kira sakit itu karena penyakit, boleh kubilang mungkin kau salah. Atau kurang tepat. Sakit yang kumaksud ini hati. Jiwa. Sakit yang tidak cukup hanya di obati dengan obat. Sakit yang menahun, yang menunggu saat vonis terakhir menjelang.

Pernah tahu rasanya terkucilkan? Tidak. Dengan keadaanmu yang bahagia dan lengkap, kau tak pernah bisa mencicipi rasa terkucilkan dan dikucilkan. Apa itu terkucilkan? Apa itu dikucilkan? Bagiku, kata “kucil” bukan sekedar “mengasingkan”. Ada arti dan makna luas daripada sekedar itu. Kau dijauhi juga di asingkan oleh lingkunganmu. Ini membuat dendam yang semakin membuncah, menunggu saat untuk meletup, lalu meledak. Itu tergantung naluri jiwa. Kau ingin membiarkannya meledak atau pupus bersama debu waktu.

Pernah tahu rasanya menangis? Tidak. Air matamu hanya buaya. Tangisanmu hanya suara lirih tipuan diri. Kau mencoba menangis, saat dirimu yang lain sibuk membunuh. Membunuh karakter orang lain dengan tetesan air dari matamu. Bukan begitu air mata. Bukan begitu tangisan yang kumaksud, setidaknya sampai saat ini.

Dan pernahkah kau tahu apa itu derita? Tidak. Bukan derita karena kau tak bisa membeli mobil baru yang ku maksud. Bukan pula derita karena kau tidak bisa makan enak hari ini. Bukan itu. Bukan. Derita itu ketika kau menjadi susah dan tiada yang peduli. Derita itu ketika kau menangis dan tiada yang menganggap serius apa yang kau teteskan. Derita itu ketika kau terkucilkan dan masih ada suara sumbang yang tetap menghina dan menggunjingmu tanpa henti. Derita itu ketika kau sakit dan orang lain menunggu kematianmu.


Pernah tahu rasanya itu semua? Tidak. Karena kau memang terlahir tanpa rasa, nyawa juga asa. Kau tercipta hanya demi sebuah harga dan dunia. Aku, kau, dia, mereka, kita semua hanyalah cetak biru keserakahan dunia demi gairah nafsu yang tak kunjung padam. Ketuhanan hanya kedok dari segala perilaku busuk kita.

Aku, kau, dia, mereka, kita semua terlahir tanpa rasa untuk kembali mati tanpa asa.

SELESAI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s