Pajak yang (seharusnya) Bijak


Pajak. Apa yang terlintas di pikiran situh kalo mendengar kata pajak? Sebagian menggumamkan Gayus, sebagian lagi langsung membayangkan uang yang banyak yang semestinya di gunakan untuk pembangunan negara. Sah-sah aja kok segala asumsi itu.

Sebentar, sebelum saya ngoceh lebih lanjut. Saya yakin, ada beberapa diantara situh yang sering banget menggunakan kata “pajak” dalam keseharian tapi belom tau apa arti sebenernya pajak itu sendiri. Dari info yang saya colong di Wikipedia, pajak itu artinya iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang —sehingga dapat dipaksakan— dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum untuk menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum. Itu kata Wiki, dan memang seharusnya seperti itu. Kenyataannya? tanpa saya jelasin, situh udah bisa ngerti.

Lantas katakanlah, kita termasuk orang-orang atau pribadi yang hobi membayar pajak. Lalu di kemanakan uang pajak yang kita bayar itu? Apakah di korupsikan atau di salah gunakan? Tergantung situh bertanya penggunaan pajak di negara mana. Kalo negara yang situh maksud adalah Indonesia, saya ga usah jelasin, tapi kalo di negara lain, pajak benar-benar di gunakan untuk pembangunan negara, pembiayaan APBD, perawatan fasilitas publik dan segala macem, yang impact-nya langsung bisa kita rasakan.

Jadi kalo situh termasuk orang yang suka dan rajin membayar pajak, maka pantes kayaknya kalo situh menuntut apa yang seharusnya situh dapatkan dari negara. Tapi seharusnya malu kalo bayar pajak aja kaga, tapi meminta lebih dari apa yang kita kasih kepada negara. Karena disadari atau tidak, uang pajak benar-benar bermanfaat bagi kelangsungan suatu negara. Sekarang gini, gimana sebuah negara bisa berjalan dengan baik, semau fasilitas terjaga dan terawat, kalo kita sebagai penduduknya ogah membayar pajak? Maka pantaslah kiranya kalo pembangunan di Indonesia berjalan begitu lambat. Karena selain beberapa oknum yang ga tanggung jawab, Indonesia juga dikenal sebagai negara yang penduduknya paling ogah membayar pajak, tapi menuntut macem-macem dari negara.

Berasa ganjel rasanya kalo kita sebagai penduduk berkoar-koar meminta hak sebagai warga negara di penuhi, namun belaga bego saat kewajiban kita di tagih. Lalu disini ada pertanyaan, “lah kita kan warga negara, bukannya sudah sepantasnya mendapatkan fasilitas yang baik?” Bener, ga salah kok kalo situh berpikiran seperti itu. Tapi ya situh semestinya berpikir juga kalo uang yang di pakai buat penopang fasilitas publik itu ga dateng dari langit atau juga ga ngandelin pemasukkan negara semata aja. Ada campur tangan dan andil dari pembayaran pajak didalamnya. Lah terus pajaknya darimana?Menurut info dari wiki, ada :

Pajak Penghasilan
Diatur dalam UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan yang diubah terakhir kali dengan UU Nomor 36 Tahun 2008

Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
Diatur dalam UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang diubah terakhir kali dengan UU No. 42 Tahun 2009

Pajak Bumi dan Bangunan
Diatur dalam UU No. 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan yang diubah terakhir kali dengan UU No. 12 Tahun 1994

Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
Diatur dalam UU No. 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang diubah oleh Undang-Undang No. 20 Tahun 2000

Bea Materai
UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai

Nah, kesemuaan ini nanti bakalan di tampung dan bakalan di bagi secara merata untuk kebutuhan negara. Termasuk penyediaan terhadap kebutuhan publik dan kesejahteraan negara itu sendiri. Kok harus bayar yah? Man, ga ada yang gratis lagi. Anggaplah dengan membayar pajak, kita berinvestasi ke negara yang hasilnya tetep bisa di nikmati sampe keturunan kita nanti. Pasti situh nanya lagi, berarti jamannya kake nene kita dulu kan udah bayar pajak dong, lah kok kita kudu bayar lagi? Lah Pan tuntutan zaman sekamin berkembang bro, lagian pembangunan ga bisa begitu aja berhenti. Kalo dulu mungkin pajak yang di bayarin sama moyang kita itu di alokasiin buat bikin Ancol, jalan tol di tiap provinsi, terminal-terminal, stasiun de el el, nah kalo sekarang mungkin pajak yang kita bayarkan itu alokasinya buat bikin lapangan pekerjaan baru, moda transportasi yang efisien, sarana pendidikan dan banyak lagi.

Bisa aja sebenarnya pajak itu ga di terapkan di sebuah negara, tapi konsekuensinya adalah negar aitu berhutang terhadap bank dunia. Dan apakah situh mau memiliki hutang yang begitu banyak hanya untuk perkembangan negara sendiri? Saya sih ogah. Maka dari itu, ada yang namanya wajib pajak. Tujuannya ya itu, meminimalisir hutang negara dan memaksimalkan apa yang ada. Saya yakin dah, kalo misalnya ratusan juta penduduk Indonesia semuanya pada taat dan patuh sama pajak, negara kita ga bakalan kudu berhutang lagi. Kenapa? soalnya uang dari pajak aja udah bisa memenuhi kebutuhan negara.

Dari sini semua udah jelas, lalu timbul ketakutan massal. Takut kalo udah bayar pajak tapi nanti pasti disalah gunakan. Ah, itu mah tinggal individunya masing-masing sodara! Kalo hanya karena itu terus kesadaran kita akan pajak jadi berkurang atau malah hilang sama sekali, berarti kita ga jauh beda sama si oknum-oknum ndobos itu tadi, ikut menghancurkan negara, namun cara kita lebih lembut : ga bayar pajak. Yang penting penuhi dulu kewajiban kita. Masalah uang itu mau di kemanakan, itu udah urusan personal. Lagian jika kita udah memenuhi kewajiban kita, rasanya baru berhak deh tuh kita berdemo riua mengecam pembangunan yang stagnan ato pelayanan negara yang sontoloyo kurang baik.

So, bijaklah dalam membayar pajak, juga awasi penggunaannya. Karena biar gimanapun, itu tetep uang kita.

SELESAI

Iklan

4 responses to “Pajak yang (seharusnya) Bijak

  1. Memang seringkali kita lebih lantang berteriak tentang “hak” ketimbang “kewajiban”, paralel dengan peribahasa kuman di seberang kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak nampak. Maka jadilah teriakan dan keluhan jalan dan jembatan rusak, sekolah mau rubuh, puskesmas kehabisan obat, kekayaan alam diserobot negara tetangga dan sebagainya berupa kurangnya public service yang disediakan oleh pemerintah. Namun kita tidak pernah bertanya (bahkan dengan suara yang sangat pelan sekalipun) berapa sumbangsih (dalam bentuk pajak) yang sudah kita bayarkan kepada negara, apakah pajak yang sudah kita bayarkan sudah sesuai dengan semestinya dibayar, dari mana pemerintah mempunyai dana untuk menyediakan dan meningkatkan public service untuk rakyatnya?
    Namun satu hal yang pasti: kita semua (baik yang bayar pajak, bayar pajak namun tidak semestinya, maupun yang tidak bayar pajak)akan geram, mencaci dan marah manakala mengetahui pajak yang disetorkan ke Bank/Kantor Pos ada yang dikorupsi, dipakai untuk membiayai pejabat jalan-jalan ke luar negeri, pengeluaran negara dibengkakkan atau dimark-up sehingga ada sebagian masuk ke kantong pribadi pejabat, kongkalikong pengusaha dengan pejabat pemerintah dan sebagainya……….
    Ada satu hal lagi. Peribahasa orang bule bilang: It’s take two to tango. Perumpamaannya begini, karena kita salah jalan atau melanggar rambu LL dan ketahuan sama oknum, maka kita ngajak damai (ketimbang ditilang) dan oknumnya mau diajak damai. Maka jadilah kolusi, yang satu ngajak damai yang satu mau diajak damai. Kalo kita kagak salah mana mau kita ujug-ujug ngasih duit sama pak oknum. Sebaliknya kalo kita kagak salah, tidak mungkin ujug-ujug oknum menilang kita. It’s take two to tango! Beda dengan negara yang sudah maju (katanya) rakyatnya lebih suka membayar ke Kas Negara (walaupun jumlahnya lebih besar) ketimbang memberi ke kantong pribadi oknum. Ceritaan seperti ini berlaku di berbagai “kejadian” yang berujung kepada perbuatan yang bernama kolusi dan korupsi…. Demikian halnya dengan pajak. Pengusaha atau wajib pajak, haqul yakin kagak bakalan mau nyogok oknum kalo mereka “kagak salah” (emang gue bego apa.. hehe) dan kolusi tidak bakalan terjadi kalo oknumnya punya integritas dan kagak doyan disogok…. It’s take two to tango!
    Om Provokator, ane beri jempol dua untuk tulisannya, salam kenal!

    • saya suka dengan peribahasa bule tersebut, “its take two to tango” hahahhahaha..dan overall, saya suka pandangan anda!! jempol dua juga atas komennya! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s