Sajak Temen Saya


Kalo sampe ada sajak yang saya masukkan di blog saya, sudah berarti saya suka sama sajak itu, selain karena indah dan bagus. Contohnya ya di postingan ini. Kali ini saya mau posting 3 sajak yang dibikin sama si Arham Arsalan. Kalo boleh sedikit komentar sih, sajak-sajak Aam ini pintar memainkan kata-kata, penempatan dan pemilihan kata juga apik dan lugas. Selain itu, kayaknya sih tipe-tipenya ga jauh beda sama sajak-sajak yang saya bikin, makanya saya betah baca sajaknya dia sampe abis, 3 biji. Dah ah, daripada lama-lama, sok nikmatin sajaknya!

 

Bunga

Dia hanya menunggu… lebih dari kepalsuan dunia yang terlalu mendominasi….

Pemikiran tentang berapa harga sebuah diri, tentang nilai sebuah moral telah membusuk dalam kepalanya….

Dia terlalu anggun untuk menjadi sunyi….

Dia terlalu cantik untuk dipaksa memakai topeng…..

Letih..

Mencoba bangkit dari segala yang membungkam…..

 

Saat mereka berbicara tentang harga…saat mereka berburu mimpi… dia terpaksa harus mati suri… tak ayal mayatnya seakan menjelma ikut serta…..

Dia tak minta dilahirkan sebagai wanita dalam mimpi orangtuanya, dia tak pernah meminta…..

Yang ia tau..adalah hidup layak sebagaimana diri bisa dihargai, sebagaimana moral bernilai tinggi… dirinya tak pernah ikut campur… ia cuma bernafas, melangkah, menangis, diam, tertawa… hanya itu….

Ia pernah sedikit berpikir.. sama halnya dengan pelacur bertarif pantas..cantik, elegan, kelas tinggi, berarti berharga tinggi…..

Namun ia bukan pelacur….ia bukan penjaja tubuh….

Ia hanya berkutat dalam pengaturan, terjebak rantai yang melilit prinsipnya….

Prinsip buatan, etika buatan, aturan buatan….tanpa pernah sempat dirinya bertanya….

 

Ia tak kenal idiologi apapun… yang ia kenal hanya Tuhan dan aturan…

Orangtuanya adalah perantara Tuhan…

Itulah yang telah membusuk hingga mengering lagi dalam otaknya,,..

Hingga sujudnya, doanya seakan percuma….terbuang…mati…

Ia tak pernah meminta untuk jatuh cinta….

Ia tak pernah meminta untuk jadi bunga….

 

Refleksi wajah dalam cermin yang telah berceceran seperti puzzle yang hendak menikam….

Tertetesi air mata…yang telah lama menunggu….

Hingga tak ada lagi yang perlu ditanyakan…..

Hingga semua yang jengah terkubur bersama getir aroma stagnansi….

Tak bertepi….

Pada malam pun ia cuma tersenyum… tanpa ucapan selamat tinggal….

Ia rasa tak perlu… toh tak ada yang mendengarkan, bahkan Tuhan pun terlalu sibuk malam ini. Sibuk dengan aturan yang telah membuatnya hidup pada rantai yang tak bisa di bukanya. Sibuk mematok yang mana dosa, yang mana pahala

Hingga semua tampak bias….

Buram..

Gelap…

Hanya ada sisa nafas berbau keletihan….

Letih bernafas…

Letih melangkah dalam hidup yang percuma…

“selamat tinggal”… hanya itu bisiknya..entah untuk siapa….

Setidaknya ia tak perlu lagi mati dalam dunia nyata….

Perlahan ia rebah… begitu dingin jemarinya..membeku dalam darah yang ragu…

Darah itu… cermin itu… begitu menyatu….cermin yang merefleksikan wajah anggunnya adalah antagonis idolanya malam itu…

Bukan orangtuanya…bukan tuhan…bukan juga harga dirinya….

 

Selintas.. bayang bayang keluarga yang ideal…nyata tepat digerbang pikirannya…

Keluarga yang tak kenal lelah sibuk mematok harga untuk sebuah diri…

Tak kenal lelah menjadi palsu…tertawa…terbahak…tak tau ada apa dengan sisi sisi kehidupan, tak tau arti sebuah kebebasan rasa…..

Perlahan..tenggelam….

Tak terdengar lagi…..

Arham Arsalan

12 maret, 2008

 

Catatan rasa yang tak terencana….

Aku sempat mengunjungi sesak pada tubuh yang lemah…

Hampir mati…

Sekarat…

Perlahan semua bergerak seperti putaran bumi yang berulang namun dalam dimensi yang berbeda…

Setelah kujumpai ribuan perih… dalam kenikmatan maha dasyat yang penuh sensasi…

Pekat..tak lagi sanggup menahan buram dunia… maya….nyata…tak jauh berbeda….

Semua itu hanya proses.. semua itu adalah system realita yang tertanam mengakar dalam otak usang manusia…

Detik yang tak terencana…

Disana kujumpai engkau…

Dalam fase seperti sketsa…

Seperti bergerak dalam celah…

Mengalir ketiap rongga darah…otak…bahkan kornea mimpiku….

Indahmu yang tak pernah terucap …

Tertahan dalam kelu…

Bukan ingin kurengkuh dalam kalutku….

Bukan ingin kurengkuh dalam matinya rasaku…

Ini sebuah langkah yang tak sempat kusadari pijaknya …

Kamu…

Berdiri anggun pada tiap jeda pikiranku yang carutmarut….

Menari riang pada lembabnya mimpiku…

Kamu…

Perlahan mengisi warna cerah pada kanvas asaku yang berkarat…

Pada realitaku yang bernanah…

Kamu…

Indahmu…

Persilahkan aku rengkuh semua itu…

 

ARHAM ARSALAN

110611

 

Dihari yg lain…

Tentang bumi dan rotasi didalamnya..

Setelah kau memilih untuk merengkuh jiwa lain…

Setelah kau tinggalkan jutaan cerita yg nanar..

Dalam bisu hari-hariku..

            Realita sempat bergerak menuju ke’fiksi’an

            Aku rindu bercumbu dengan kepahitan

            Dan sulit berucap “terima kasih

Tuhan mungkin tau…

Aku tau..tentang semua itu..

Kita berada tepat dalam garis-garis dendam..

Dan kita ternyata tak pernah bisa membersihkannya…

Tentang hati yg selalu keruh..

Kepada yg pernah mengisi aku…

            Ini bukan cerita usang,,

            Walaupun kau usang..

            Tepat diatas rindu dendam..aku mengaduh..

Aku tak pernah perduli siapa dia…

Aku tak pernah ingin tau ..

Aku tak pernah ingin menambah kesakitan ini..

Dan aku tak pernah ingin mengiklankan sakitku…

Fatamorgana…

Setelah aku tau wujud aslimu…

Setelah jutaan cerita berubah jadi kebohongan…

Aku tetap berpikir….

kamulah orang paling palsu dimuka bumi setelah billy milligan…

Seperti kesaksian Judast…

Memahat jasad berbau busuk dalam 200KM jaraknya…

Kau cumbu aku dalam ruang hampa udara

Kita bercinta dengan sperma yg terbuat dari plastik ..

Dan tak ada logika..

Semua tentang logika yg kau ucap….

itu adalah ketololanmu sebagai seorang pembohong…

AKU MARAH…

Namun lega…

Dan kita berakhir biasa saja…

Aku bukan yg pertama…(aku tersenyum kala itu)

Tp kau yg pertama…(aku menyeringai penuh sesal kala itu)…

Tapi kau lupa…

Rasa kita dulu (yg palsu)…adalah bagian dari penciptaanku atas makna dan semiotika..

Kau lupa..

Semua tentangmu (yg palsu) adalah nanah yg mengering tepat dihari penantianmu..

Ya..

Hari penantianmu…untuk segera pergi sebelum semua mencerca…(walaupun terlambat)

 

Cinta pertamaku…

Kamu.

 

180311  | Arham Arsalan

Iklan

2 responses to “Sajak Temen Saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s