Penyakit Lama


Lumayan sering saya melihat beberapa orang merasa salting ketika ketemu sama orang luar negeri? Salting, cari perhatian, menarik perhatian, sok akrab, gugup bahkan terkadang terlihat bodoh didepan WNA? Sering yah.

Kenapa? Maksudnya, kenapa harus? Biar diakuin temen sama mereka? Diajak ke negaranya? Atau diangkat jadi saudara/pasangan? Haha, iya, semua orang punya tujuan, tapi apa iya sampai harus seperti itu?
Pernah satu kesempatan, waktu saya masih kerja di cafe, ada temen satu kerjaan yang begitu kelimpungan ketika mendapatkan tamu seorang bule. Salting, gugup, cari muka. Segala apa yang diminta si bule dilayani, sikapnya begitu sopan dan sangat santun. Padahal, si WNA ini penampilannya ya ga begitu genah. Terkesan kumuh malah. Tidak lama setelah kejadian pertama, datanglah orang lokal ke cafe kami. Pakaiannya rapi meski sederhana. Coba tebak perlakuan apa yang teman saya berikan? Acuh tak acuh, miskin senyum, agak kasar (terutama ketika si tamu lokal ini banyak permintaan). Intinya berbeda jauh perlakuannya ketika dia melayani si bule. Penasaran, saya tanya kenapa dia begitu.

“Kan si bule mah tamu asing, kita harus berbuat baik sama dia. Harus se-sopan mungkin. Lah kalo yang satu lagi mah orang sini, ngapain juga harus sopan-sopan banget? Duitnya juga paling pas-pasan.”

Oh, gitu. Baiklah. Yang kemudian terjadi adalah temen saya bersungut-sungut karena si bule membayar kurang, dompetnya tertinggal katanya. Sementara si tamu lokal ini membayar lunas dan malah memberikan tip. “Bule kok bokek!” keluhnya. Saya sih ngakak.

Gak cuma itu aja, ada banyak kejadian yang membuat saya semakin yakin kalo sebagian dari kita adalah bule-minded. Kita lebih bisa menghargai keberadaan WNA daripada sesama kita. Iya kan?

Kenapa harus? Memang tidak bisa memberikan perlakuan yang sama? Sebagian dari situ mungkin bilang “oh tidak bisa disamakan dong. Mereka kan bule, harus bener-bener dipandu baik, nanti kalo mereka kenapa-kenapa gimana? Kasih kesan baik dong.”

Dipandu baik memang iya, tapi kalo sampe berlebihan ya ga baik juga. Sementara kita cuek dengan sesama kita dan begitu menjilat dengan mereka.

WNA masuk ke mall pasti akan dilayani dengan baik, kemana-mama diikuti, ditanyakan segala macam hal walau bahasa Inggris pas-pasan. Orang lokal? Boro-boro. Saya pernah punya pengalaman. Niatnya mau cari barang elektronik, nanya sama SPG, dapet jawaban yang kurang memuaskan. Gak lama ada bule dateng. Mereka ga nanya aja dijelaskan panjang lebar dengan senyum sana-sini. Saya? Dicuekin.

Najis ya? Iya.

Betapa kita bangga dengan segala hal yang berbau luar negeri. Pamer foto waktu liburan keluar negeri, ya Paris, ya Amerika atau Singapura. Pernah mikir ga, apakah para WNA yang dateng kesini bakalan berlaku sama? Yang saya tau dari temen sih, selama itu bukan Bali atau Jogja, mereka malu memamerkan foto
ketika mereka plesir ke Indonesia.

Betapa beberapa dari kita sangat ingin dipandang baik oleh orang luar negeri sementara berlaku tidak enak ke sesama kita. Betapa kita sangat ingin menjilat menghormati para WNA disaat kita tidak bisa menghormati orang serumpun. Iya, kita. Saya dan mungkin situ.

Bersikap baik pada orang asing itu baik, demi mencerminkan bangsa yang berbudaya. Tapi sampai berlebihan? Pikir lagi. Gak dapet apa-apa :))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s