Kelas Nanggung


Jadi ceritanya semalem saya terlibat percakapan seru dan rame barengan temen saya si Reva dan Tory. Ngomongin segala macem, biasalah, kita udah deket kayak kakak adik. Saya kakaknya, Reva adiknya. Gak tau deh Tory siapa 😛

Sampe akhirnya ngomongin soal jodoh. Pasangan. Seiring nasib yang sama (baca: sering ditinggalin pacar karena orang tua), kita akhirnya bicarain tentang itu. Apa yang mendasari si orangtua hingga memaksa anaknya untuk ngedapetin pasangan yang mapan dan “menjamin”. Oke, demi kebahagiaan. Tapi kebahagiaan yang seperti apa? Yang kayak gimana?

Mungkin bukan cuma saya dan temen saya itu. Situ juga pernah ngerasain hal yang sama. Disuruh pisah sama camer cuma karena dinilai tidak bisa membahagiakan si pasangan. Membahagiakan dalam hal duit maksudnya? Emang kebahagiaan selalu datangnya dari uang? Malah sempat terpikir kalo alesan itu sebenarnya cuma modus tuk menjaga kehidupan dari si orangtua.

Kok bisa?

Dalam pandangan saya, CMIIW, kebahagiaan hati sudah datang dengan sendirinya ketika kita bisa mendapatkan seseorang yang bisa membuat kita senang setiap hari, yang bisa diajak ketawa dan nangis bareng, yang bisa memposisikan dirinya sebagai pasangan, dan lainnya. Sampe disini aja nih bahagianya? Oh, enggak. Tentu kita butuh materi. Butuh Duit. Ya buat nikah, kehidupan setelah nikah, setelah punya anak, sandang pangan papan, dan banyak lagi. Tapi stop. Itu kejauhan, kita bicara ketika sedang pacaran, bukan ketika sudah ingin menginjak step yang lebih jauh; menikah.

Kok berhenti sampe di pacaran aja? Karena ketika kita sudah memikirkan untuk menikah, tentunya kita, terutama lelaki, sudah memikirkan dong. Mampu atau enggak “ngasih makan anak orang”, bisa atau enggak hidup berdua berkecukupan. Saya sih yakin, ga ada lelaki yang cukup gila menikahi pasangannya disaat dia tidak punya apa-apa.

Pertanyaannya adalah : WHYYYY YOU ALL SOOOO KETAKUTAN ANAK YOU SUSAH, HAI CAMER?

Di titik ini, sampailah saya dan Reva juga Tory pada satu kesimpulan. Ternyata keadaan ekonomi pasangan kita (atau malah kita sendiri!) dibagi menjadi 3 tingkatan. Kaya banget, nanggung (miskin kagak, kaya belom) dan Kurang Berkecukupan. Maksudnya apa nih?

Ketika kita mendapatkan pasangan yang berasal dari kelas Kaya Banget, sepertinya dan kebanyakan malah tidak mendapatkan halangan berarti. Kelas Kaya Banget ini tipe-tipe uangnya ga abis tujuh turunan, delapan tanjakan dan sembilan belokan. Kita ga ditanyain soal kerja apa, tabungan berapa, keluarga ningrat apa bukan dan terpenting, PNS atau bukan. Biasanya orang tua dari kelas ini lebih ke “asal si anak nyaman, kita mah nyaman. Nikah gih!”. Gitu. Saya ngomong ini bukan tanpa survey dan bukti. Banyak temen saya yang bernasib begitu. Datang dari keluarga antah berantah, pas ketemu pacar yang kaya, akhirnya bisa nikah dan hidup bahagia tanpa pernah bermasalah dengan ekonomi dan mertua.

Itu kelas pertama, kelas Kaya Banget.

Yang kedua, Kelas Nanggung. Ini yang susah. Dibilang miskin tapi marah, dibilang kaya tapi kayak orang susah. Sering banget ikut campur dalam memilihkan pasangan buat si anak. Bibit, bebet, bobot dan rekening. Ga perlu ganteng, ga perlu good looking, yang penting dompet dan pekerjaan. Mau jelek kayak tukang tambel ban (emang tukang tambel ban jelek-jelek?) asal berduit mah hayuk. Standar dalam mencari calon menantu tinggi banget, kebanyakan karena ga mau hidup susah saat masa tua. Ya begitu deh. Situ pasti pernah menemukan kok (atau malah mengalami sendiri). Ya saya ga bilang semua kelas nanggung seperti ini, tapi yang begini pun banyak. Gituh.

Yang terakhir, tidak berkecukupan.

Ga usah dikasih contoh, mungkin kita bisa ngeliat sendiri buktinya. Contohnya dimana-mana kok. Yang sekeluarga cuma tinggal di rumah sepetak, pendapatan pas-pasan, anak banyak. Si orang tua pun ga terlalu memasang target tinggi banget dalam hal memilih pasangan untuk anaknya. Selama mereka cocok dan bisa saling mengisi, ya dijalani. Ga tau kenapa juga. Apa mungkin karena mereka terbiasa hidup seperti itu makanya tidak memasang target tinggi atau memang sudah dari sananya. Entah. Kurang lebih sama dengan tipe kelas Kaya Banget yang ga begitu memusingkan soal jodoh tuk si anak. Kebanyakan sih seperti itu, meskipun yang bertingkah pun banyak.

Nah, situ yang mana? Atau lebih tepatnya, keluarga pacar/pasangan situ yang mana? Kenali dan putuskan untuk bersikap deh 😛

At the end, alangkah lebih bijak kalo misal sama-sama saling mengerti, baik pihak orangtua maupun pasangan itu sendiri. Toh dari semua hal, kebahagiaan adalah yang paling kita cari. Baik dalam hal materi atau jiwa. Sori kalo ada yang tersinggung, waktunya membeli kaca.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s