Belajar dari (yang) Bawah


Jadi ceritanya minggu lalu saya melakukan aktifitas ambil uang gitu di salah satu minimarket. Selesai ambil uang, beli rokok deh tuh. Perhatian saya tertuju sama seorang laki-laki berpenampilan lusuh dan, maaf, bau badan tidak sedap sedang menghitung uang didekat meja kasir. Gak lama, lelaki ini selesai menghitung uang dan menyerahkannya ke kasir.

Bermaksud menukarkan, karena uang yang dia hitung tadi dalam bentuk recehan 500an dan seribuan. Total uang yang ditukar mencapai 150 ribu. Waktu si lelaki itu pergi, iseng saya nanya ke kasirnya, “Itu biasa nuker uang disini, mbak? Banyak banget.” si kasir pun menjawab, “Iya, mas. Dia pengamen. Kadang-kadang jadi pemulung. Hampir tiap hari nuker uang kesini. Uangnya banyak banget.”

Waw, dalam hati saya menghitung pendapatan si pengamen tadi. Jika sehari bisa mendapatkan minimal 100ribu saja, sebulan bisa mengantungi 3 juta rupiah. Gaji saya aja kalah. Untuk ukuran di Madiun, uang segitu cukup untuk segala macem kebutuhan selama sebulan. Masih bisa nabung pula. Tapi coba liat penampilan si pengamen tadi. Lusuh, aroma badannya ga enak, ga bersih pula.

Bukan.. Bukan mau ngomongin soal penampilan. Yang mau saya omongin adalah kerjaannya dan kepintaran orang-orang seperti pengamen tadi dalam mengelola keuangannya. Banyak lho orang-orang dengan pekerjaan yang sering kita pandang sebelah mata namun berpenghasilan lebih besar. Sebut saja pengamen, pemulung, tukang jahit keliling dan lainnya. Mereka bisa dapat keuntungan yang ga sedikit dalam sehari, yang jika dikalikan, dalam sebulan penghasilannya bisa bikin kita-kita orang, yang katanya kerjaan keren dengan penampilan rapi, malu.
Dulu, waktu di Bogor, ada seorang ibu yang jadi pemulung. Penghasilannya tiap bulan mencapai empat juta. Si ibu ini janda dan masih harus mengurus ketiga anaknya. Hebatnya masih bisa nabung dan tidak lama kemudian, ibu ini udah jadi pengepul barang, bukan pemulung lagi. Penampilannya? Situ ga bakal nyangka kalo ibu ini bos pemulung, wong lusuh banget jeh. Ada lagi tukang permak jeans yang bisa punya rumah keren banget di kampungnya. Iyap, permak jeans. Rumahnya lantai dua, besar dan lapang. Saya tahu karena dulu langganan saya. Dengan bangganya dia memamerkan foto rumah hasil kerja kerasnya ke semua langganannya. Penampilannya? Ya ga bakal nyangka deh situ kalo dia punya rumah yang katanya paling gede di kampungnya. Banyak lagi cerita-cerita semacam itu dari para pekerja kelas dua. Yang harus ngorekin sampah, nyanyi dari rumah ke rumah, sepedahan siang hari bolong, dorong-dorong gerobak namun berpenghasilan yang tidak terduga. Dan hebatnya, mereka tidak menampakkan itu ke umum. Kok? Iya dong. Pemulung kalo pake baju mahal dan keren, orang nyangkanya maling pakaian dong. Pengamen kalo gitarnya ibanez dan pake sepatu keren, orang nyangkanya garong dong, tukang permak levis kalo pake sepeda harga 3 jutaan mah ga bakal laku, dong. Mereka lebih milih hidup sangat sederhana dan mengalokasikan uangnya untuk sesuatu yang lebih berguna dan bermanfaat.

Apa itu? Ya rumah, pendidikan anak-anaknya dan beramal. Yoha, percaya atau enggak, mereka bisa beramal lebih besar daripada yang kita mampu. Oke, bukan bisa beramal, namun rela beramal besar. Keren. Beda sama kita-kita orang. Kerja gaji cuma 700ribu, gaya ambil motor, padahal naek sepeda pun bisa. Bosen sama pakaian yang ada, belanja. Dan lainnya. Tuntutan pekerjaan? Baiklah, katakan tuntutan pekerjaan.

Cuma tuntutan pekerjaan yang gimana nih, yang sekedar cukup atau melebih-lebihkan? Eh, saya nulis ini bukan sedang menbicarakan orang lain kok, lebih pada berkaca ke diri sendiri. Begitu boros dan sok mampu, padahal biasa banget. Sering berpikir mungkin sangat enak ya bisa hidup “cukup” seperti para pekerja kelas dua itu. Cukup dalam arti sebenarnya, ditambah pengelolaan penghasilan yang baik. Tapi semua sih balik lagi ke diri masing-masing ya. Toh itu hak pribadi, wong yang kerja sampe keringetan kan situ-situ juga.

Yang jelas saya mulai ragu dengan kalimat, “seiring penghasilan yang besar, kebutuhan pun akan semakin banyak”. Wong buktinya ada di sekitar kita.

Wah, jadi inget kalo lagi butuh laptop karena laptop lama rusak. Harus beli atau mencukupkan diri dengan yang ada (baca : pergi ke warnet)? Hehehehe..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s