Tentang UNAS


Udah basi belum ngomongin soal UNAS? Belum kan ya. Belum ada sebulan berlalu. Belum juga ada info kelulusan, kan? Jadi, saya mau ikutan ngomongin soal hajatan pendidikan terbesar di Indonesia ini.

Apa ya? Saya pribadi sih termasuk orang yang kurang setuju dengan yang namanya pengadaan Unas, UN, ato apalah namanya itu. Kenapa? Coba dipikir, saat kita sekolah selama 3 tahun dan lulus atau tidaknya ditentukan hanya dalam waktu 3 hari. Coba dihitung berapa banyak uang yang sudah keluar, berapa banyak tenaga danwaktu yang terbuang, lah ya masa terus penentuannya cuma dalam waktu 3 hari? Apa kabar waktu yang terbuang selama 3 tahun itu? Katakan saya salah, namun ini tetap tidak bisa dimasukkan kedalam nalar saya.

Berarti, pendidikan kejam ya?! Iya dong. Kejam. Kalo memang pada akhirnya penentuan kelulusan para siswa diambil alih oleh negara, dalam hal ini kementerian pendidikan, lalu apa guna para guru yang selama 3 tahun sudah mengajar murid-muridnya? Lalu apa beda antara anak-anak yang rajin dan pintar di sekolahnya dengan anak-anak yang masuk kategori “badboy” di sekolahnya jika penentuan kelulusan hanya memakan waktu 3 hari? Ga ada dong ya.

Itu tentang Unas secara garis besar, belum lagi masalah yang lain. Apa lagi?

Sori sebelumnya, tapi dari info yang saya tahu dan saya dapat, adanya Unas pun menjadi semacam lahan baru untuk mencari sampingan oleh oknum. Saya masih bingung dengan diadakannya istighosah, ritual pencucian alat tulis, halal bihalal sampai acara meminta maaf kepada guru + mencium kaki mereka. Waw banget. Dan info yang saya dapat, acara-acara “menyambut” Unas ini tidak gratis. Ada biaya yang ditarik jika ingin mengikuti acara semacam ini. Mulai dari 5000 sampai 10.000 rupiah per kepala. Buat apa? Untuk apa? Apakah dengan istighosah lalu kemudian ada jaminan si anak akan lulus dengan sempurna? Apakah dengan mencuci alat tulis sambil didoakan akan membantu mereka dalam mengerjakan soal? Dan apakah halal bihalal + mencium kaki guru bisa dikatakan sebagai salah satu cara agar bisa lulus? Ah, ga masuk akal ya. Jadi saru akhirnya, apakah ini belajar ilmu perdukunan atau belajar pendidikan formal? Terus bagi mereka yang tidak mengikuti ritual-ritual diatas, gimana? Biasanya sih bakal disulitkan atau mendapatkan perlakuan beda.

Kenapa harus ada ritual-ritual atau acara-acara semacam ini? Apakah agar supaya ketika si murid tidak lulus lantas pihak terkait bisa berkata, “Kamu sih ga ikut sungkem, jadinya ga lulus deh.” atau “Kamu ga ikut istighosah nangis-nangisan sih, ga lulus, toh?”. Walah, salah kaprah.

Udah, segitu aja? Belum.

Pagi tadi saya membaca sebuah status di facebook yang dibuat oleh guru SMP saya dulu. Kurang lebih isinya tentang kebiasaan para siswa yang melakukan aksi corat-coret dan konvoi seusai mengikuti Unas. Lah, emang adek-adek unyu ini yakin lulus, kok pede bener melakukan kegiatan tidak berguna seperti itu? Emang dedek-dedek ini ga inget waktu pas nangis-nangis menjelang Unas, kok pas selesai ujian langsung aja konvoi, corat-coret bahkan mesum tempat umum? Bales dendam kah karena sebelum Unas belajar tingkat tinggi? Atau sekedar ikut-ikutan?

Anggaplah kegiatan konvoi dan corat-coret ini adalah ekspresi kegembiraan dari para murid, suatu bentuk rasa syukur karena proses ujian yang mereka hadapi telah selesai. Tapi emang harus begitu? Menurut hemat saya sih, mending dedek-dedek unyu ini sumbangin aja seragamnya buat adik-adik yang bakalan melanjutkan sekolah. Mending duit yang dikeluarin buat beli spidol, duit yang dikeluarin buat bensinin motor dikumpulin aja, sumbangin deh ke orang yang butuh. Kemana? Ya bisa ke panti asuhan, bisa ke badan zakat, ato malah ke sodara sendiri yang emang butuh. Rasa syukur dan bahagianya lebih berasa lho. Ciyus! 😛

BTW, kegiatan ini nampaknya bukan suatu agenda dari sekolah kan ya? Kalo iya, kenapa sekolah tidak memberikan sanksi atau peringatan bagi mereka yang mengikuti acara ga penting ini (konvoi dan corat-coret)?

Sudah, tapi tetep aja muridnya pada mbandel.

Caranya salah mungkin. PDKT dong, bapak dan ibu guru. Pendekatan, bahkan kalo perlu pengarahan ke murid-muridnya. Sudah ga jamannya lagi guru keras ke muridnya, sudah ga jamannya pula, guru melakukan komunikasi 1 arah ke anak didiknya. Dan rasa-rasanya, susah jika meminta murid yang menyesuaikan diri ke guru, lebih mudah jika dibalik. Guru yang menyesuaikan pendekatan ke murid. Tahun berganti, jaman berubah, begitu pun dengan metode pendekatan dan pengajaran. Ini sih menurut saya.

Sepertinya kalo ada pendekatan yang lebih “dekat”, saya rasa murid pun tahu dan mau mendengar, kok.

Segitu aja?

Enggak. Aslinya sih masih banyak. Tapi nanti kalo saya nulis kebanyakan, nanti dikiranya saya ga punya kerjaan. Padahal emang iya, makanya saya nulis. Makanya saya mengkritisi hal-hal yang beginian. Tujuannya ya ga lain dan ga bukan, cuma untuk koreksi bersama.

Kok gak ngomongin soal pemerintahan bersama kementerian pendidikan?

Halah, percuma.

Udah ya, kalo ada yang salah ya mohon dimaafkeun. Tengkyu 🙂

Iklan

4 responses to “Tentang UNAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s