So long, 2013!


Tidak, postingan ini tidak akan saya isi dengan puluhan resolusi bullshit tahun baru yang menumpuk, yang akhirnya bersiap menjadi angin lalu. Bukan itu. Yang ingin saya tuliskan adalah tentang apa yang terjadi dan saya alami di 2013. Dan, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya tetap merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia.

Iya, pada dasarnya saya memang selalu meyakini diri sendiri kalau saya adalah pribadi yang sangat beruntung. Konsep pemikiran itu saya masukkan jauh ke dalam otak, agar saya selalu menjadi orang yang bersyukur, meski tidak jarang saya merutuk. But, hey! Manusia gak ada yang sempurna, kan?

Tahun ini, saya bersyukur, karena lagi-lagi, saya berpisah dengan orang yang sangat saya cinta. Saya mensyukuri itu karena akhirnya, saya kembali merasakan sakit yang terlalu. Sakit yang sangat, apalagi jika teringat bahwa penyebab semuanya adalah saya. Bukan, bukan perpisahan yang saya syukuri. Yang saya syukuri adalah dia yang begitu baik dan sempurna menjadi pendamping saya selama 1 tahun. Dan… Yang saya sesali adalah, mengapa saya harus menjadi sebangsat itu? Sudahlah. Saya termasuk pribadi yang percaya istilah “kalau jodoh tidak kemana” 🙂

Tahun ini, saya bersyukur. Karena pada akhirnya saya berhasil meyakinkan diri untuk keluar dari zona nyaman saya. Begini, sebelum sebuah perasaan gila untuk hijrah ke Jakarta hadir di kepala saya, saya adalah seorang pekerja di sebuah radio lokal di Madiun yang sangat mencintai dan posesif terhadap pekerjaan saya. Sungguh pun, saya takut kehilangan pekerjaan yang sudah membuat saya nyaman dan aman itu. Namun pada satu titik, saya merasa semua yang saya jalani itu bukan saya banget. Iya, saya lelah dengan hidup yang tanpa tantangan. Ngomong-ngomong soal tantangan, saya adalah pecinta tantangan. Dan, pecinta wanita. 😛

Jadilah saya meyakinkan diri sendiri untuk nekat hijrah ke Jakarta, kota yang sebenarnya kampung saya namun berusaha saya lupakan untuk kemudian saya sekali lagi mencoba keberuntungan saya di sini.

Dan, tahun ini saya bersyukur. Karna ketika sampai di Jakarta, saya bertemu dengan orang-orang yang baik. Yang begitu baik kepada saya. Ini sungguh sebuah pencapaian yang harus saya syukuri. Tidak perlu saya sebut nama, cukuplah mereka yang sudah begitu menolong saya diberikan banyak manfaat dan berkah dari Dia.

Tahun ini saya bersyukur, karena saya punya banyak teman dan saudara baru. Yah, untuk mereka yang rela saya anggap saudara, maka mereka adalah saudara. Untuk yang tidak? Dianggap teman pun saya girang.

Saya bersyukur dengan 2013. Tahun penuh kegilaan, terutama untuk dapur keluarga saya. Namun, hidup yang selalu baik tidak akan selalu membawa kebaikan, bukan? Perlahan, saya semakin bisa memaknai hidup, meski sampai saat ini masih sulit memaknai uang.

Ada beberapa temen-temen yang mengatakan saya sebagai seorang yang beruntung. Ah, saya malah merasa risih, karena sama seperti kebetulan, tidak ada keberuntungan. Tuhan punya algoritmaNya sendiri yang membuat semuanya terjadi seperti semestinya. Begitu pun hidup saya, situ dan mereka semua. Bukan beruntung, saya hanya diberi banyak kemudahan. Kemudahan yang malah membuat saya bersiap untuk cobaan yang mungkin akan datang. Semoga tidak, namun jika iya, mengapa tidak?

Iya, selama tinggal 2013, kau terlalu baik. Begitu baik. Halo 2014, tolong menjadi lebih baik, saya ingin membahagiakan Mama dan nenek.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s